Teologi Kemanunggalan dan Pembangunan
Teologi Kemanunggalan dan Pembangunan
1. Arti dan Definisi Teologi
Arti Teologi: Kata teologi berasal dari bahasa Yunani theos (Tuhan) dan logos (ilmu atau wacana). Secara sederhana, teologi berarti ilmu atau kajian tentang Tuhan, khususnya hubungan Tuhan dengan manusia dan alam.
Definisi Teologi:
- Umum: Teologi adalah ilmu yang membahas keyakinan, ajaran, dan pengalaman manusia tentang Tuhan, serta bagaimana iman diwujudkan dalam kehidupan.
- Tradisi Kristen: Kajian tentang wahyu Tuhan dalam Alkitab, Yesus Kristus, dan tradisi gereja.
- Tradisi Islam: Disebut juga ‘ilm al-kalām atau ilmu tauhid, yang membahas sifat-sifat Allah, keesaan-Nya, serta hubungan-Nya dengan alam dan manusia.
- Filsafat & Ilmu Sosial: Refleksi kritis atas peran agama dalam masyarakat, termasuk nilai moral, etika, politik, ekonomi, dan lingkungan.
Ringkasnya: Teologi bukan hanya bicara tentang Tuhan, tetapi juga bagaimana manusia menafsirkan, memahami, dan menghidupi ajaran ketuhanan dalam kehidupannya, baik pribadi maupun sosial.
2. Hakikat Kehidupan dan Teologi
Hakikat kehidupan adalah pemahaman mendasar tentang asal, tujuan, dan makna keberadaan manusia maupun seluruh ciptaan. Kehidupan bukan hanya sebatas proses biologis, tetapi juga mencakup dimensi rohani, moral, sosial, kosmis, dan transendental. Melalui kajian filsafat dan teologi, manusia diarahkan untuk memahami jati diri, hubungan dengan sesama, keterhubungan dengan alam, serta hubungan yang paling hakiki dengan Tuhan.
Dalam pandangan kosmologis, kehidupan tidak hanya milik manusia, tetapi meliputi seluruh alam raya. Teologi kemanunggalan menekankan kesatuan yang utuh antara manusia dengan unsur-unsur alam: tanah, air, udara, dan matahari. Keempat unsur ini sering disimbolkan dengan warna hitam (tanah), putih (air), kuning (udara), dan merah (matahari). Simbol tersebut menegaskan bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dari alam semesta, dan keseimbangan hidup hanya mungkin terjaga apabila tercipta harmoni dengan seluruh ciptaan.
Teologi sendiri berasal dari kata Yunani theos (Tuhan) dan logos (ilmu, wacana). Secara sederhana, teologi adalah ilmu atau refleksi tentang Tuhan. Teologi tidak hanya membahas keberadaan Tuhan, tetapi juga sifat, kehendak, karya, serta hubungan-Nya dengan manusia dan alam semesta. Dalam arti luas, teologi merupakan refleksi rasional dan sistematis atas iman, tradisi, serta pengalaman keagamaan, sehingga memberi pemahaman lebih mendalam mengenai makna hidup dan arah kehidupan manusia.
3. Pembangunan sebagai Jalan Menuju Kemanunggalan
- Pembangunan adalah proses menuju kepanunggalan, bukan pemisahan.
- Prinsip sareuduk, saigel, sabot, sapihanean.
- Nilai silih wangi, silih asa, silih asi, silih asu.
4. Teologi Lokal dan Ekosistem
- Setiap daerah punya teologi: Sunda, Jawa, Bali, Kalimantan.
- Ketuhanan dipahami melalui alam: gunung, sungai, tanah.
- Gunung sebagai simbol kesucian dan ketuhanan.
5. Krisis Pembangunan dan Sekularisasi
- Pembangunan modern memisahkan manusia dari semesta.
- Benci terhadap ajaran leluhur membuat manusia jauh dari alam.
- Islam datang tidak menghapus kearifan lokal (contoh: Gunung Jati, Sunan Kudus, Kalijaga).
6. Kegagalan Pembangunan Masa Kini
- Eksploitasi SDA berlebihan, kerusakan lingkungan, kesenjangan sosial.
- Generasi terpisah dari jati diri dan lingkungannya.
- Teknologi (HP, digitalisasi) memutus rasa dan cinta antar manusia.
7. Masalah Sistem Pendidikan
- Pendidikan naratif administratif, mengejar jam dan sertifikasi, bukan esensi.
- Guru/dosen kehilangan hubungan batin dengan murid.
- Mahasiswa hanya menulis skripsi tebal tanpa makna.
- Harapan: karya nyata sebagai ukuran sarjana, bukan tumpukan kertas.
8. Spirit Budaya dan Apresiasi
- Lagu, budaya, dan seni menjadi sumber spirit pembangunan.
- Apresiasi untuk tim paduan suara sebagai simbol penghargaan pada seni.
67 - 166
Lampu memanggil dengan wasilah untuk bertemu. Ada papun jadi ukuran ngampajana.
Hidup dion, tak asih rindu menengah. Tingin jumung, cucuk awak sean.
Cindung aj lampaniloran, lamang hebat. Panas berag oleh sesuci, mengingati pantulan ajutan.
Hidupnya gemut, awak disun sesu yang samping dengan kule-lenung. Sepanjang ajatulah kamulah, pada saja diber susahingi ajas. Lebih terang jumlah ajiloran telah panas jalan ngu sej Ayu hidup.
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Sampurasun.
Ternyata kampus, sawah, terminal itu sama. Untuk mengekspresikan kebahagiaan, apapun bisa dilakukan. Mau tepuk tangan, mau suit, mau apapun jangan pernah dibatasi. Karena itulah diri kita yang sebenarnya.
Hidup jangan berbalut dengan kepura-puraan. Karena kepura-puraan itu menyiksa diri. Lebih baik apa adanya. Karena tidak baik jika ada apanya?Saya ucapkan terima kasih buat Pak Rektor. Seluruh tata acaranya dari awal sampai akhir itu mengantarkan pada sebuah tujuan. Sebenarnya Pak Rektor menulis proposal tetapi pakai bahasa Sunda yang sangat halus.
Saya mengerti, mengundang saya ke sini pasti ada arahnya ke mana. Dibungkuslah stadium jenderal. Ujungnya adalah aljabar harus bagian dari UIN.
Dan saya sebenarnya sudah menjawab itu dengan meminta Dr. Tata Sukayat sebagai ketua DKM. Sesungguhnya sudah menyerahkan secara tidak langsung, Pak.
Dan sebelum Bapak bicara, saya begitu masuk sini saya sudah WA Kepala PU saya, bangun akses jalan atau jembatan yang memadai dari UIN ke Aljabar agar bisa tahun depan dinikmati.
Insyaallah, Pak. Tidak pakai lama saya nanti sudah minta, dan mungkin sore tim saya sudah menghitung biayanya berapa. Dan saya tidak akan membebankan pada UIN. Kenapa? Karena dengan membebankan pada UIN, sama saja saya memberikan beban kepada mahasiswa.
Apakah mau saya gabungkan teks musik, tepuk tangan, dan ekspresi lainnya (misalnya `[Musik]`, `[Tepuk tangan]`) jadi narasi deskriptif juga agar lebih alami?
167 - 265
Sudah saya rapikan bagian berikut ini. Nomor urut dan timestamp dihapus, lalu teksnya disusun menjadi kalimat wajar:
Kalau kampus disuruh membangun berarti kampus bikin beban baru, karena saya tahu berapa anggaran Kementerian Agama waktu ini.
Saya ucapkan terima kasih. Ini sahabat saya, Ketua Senat yang sekarang tinggal di Bekasi. Mudah-mudahan dengan keberadaan Bapak, Bekasi berubah menjadi sesuatu yang indah dan terhampar.
Kemudian para wakil rektor, saya ucapkan terima kasih. Sekretaris senat mahasiswa, direktur pasca sarjana, saya ucap terima kasih. Kang Jana sudah memberi kesempatan saya ke sini. Kemudian ada profesor saya, teman saya di HMI dulu, terima kasih. Dulu jadi panelis debat. Saya mohon maaf belum ketemu sama Bapak. Setahu saya itu Bapak bukan UIN, Pak, tapi IIN Cipadung.
Bapak Ibu, kemudian teman-teman saya dari Pemprov Jabar, Pak Asisten semuanya. Pak Menteri Agama ini ceramah di saya, seseorang yang berani mengeluarkan pendapat-pendapat terbuka dan dibukakan kepada umum tentang sesuatu yang sering tabu dibicarakan.
Ketika bicara tentang kearifan, ketika bicara tentang ekologi, ketika bicara tentang lingkungan, sesungguhnya IAIN itu sudah dibangun dengan lingkungan, sudah dibangun dengan ekologi, dan itu diberikan nama IAIN Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati adalah sebuah teologi lingkungan yang sangat kuat. Saya pernah ikut NIK, jadi agak mengerti sedikit. Sunan Gunung Jati itu adalah sebuah nama yang diletakkan dalam kerangka dasar yang menekankan bahwa Sunan Gunung Jati adalah teologi lingkungan.
Karena itu, teologi lingkungan sesungguhnya antara Tuhan dengan alam adalah satu kesatuan. Antara Tuhan dengan kemanusiaan juga satu kesatuan. Maka orang Bali mengajarkan tentang Tri Hita Karana. Orang Sunda mengajarkan tentang Tritangtu di Buana: Rama, Resi, Prabu. Gunung awian, Lengkobudu balongan, Lebak kudu sawahan.
Dan seluruh rangkaian yang saya ucapkan sekarang, yang disebut dengan stadium general, itu sudah disampaikan dalam doa tadi. Saya baru menemukan doa yang begitu teologis. Biasanya doa-doa itu begini: “Ya Allah, berikanlah kemenangan pada kami sebagai partai politik.” Itu di depan, berbeda-beda partai. Dia menghadiri acara satu partai, doanya adalah berikan kemenangan kepada partai kami, yang di sana tangannya begini didirikan.
Nah, sebenarnya doa tadi adalah doa teologi yang menyangkut tentang ungkapan manusia dengan Tuhannya. Doa-doa itu adalah doa-doa yang mengikatkan. Maka Sunan Gunung Jati adalah sebuah nama yang mengikatkan manusia pada tiga hal: pada alam bihari, alam kiwari jeung alam boisuk. Apa itu alam bihari? Dalam teori filsafat itu disebut dengan alam ide. Alam kiwari adalah alam kekinian. Alam po isuk adalah alam yang akan datang. Maka alam yang akan datang dalam teologi pewayangan disebut alam padang poe panjang negara tunjung sempurna. Apa itu? Alam keabadian tanpa batas. Tak ada kemiskinan, tak ada kekayaan. Semua orang runut dalam sebuah kebahagiaan yang abadi.
Ada yang menarik bahwa Sunan Gunung Jati itu di Cirebon, tetapi dia menamakan dirinya gunung. Padahal di Cirebon tidak ada gunung. Tapi gunungnya Gunung Jati. Apa artinya? Bahwa tidak akan bisa menemukan tentang esensi ketuhanan secara paripurna kalau tidak mengenali jati dirinya.
Kang Jana dulu adalah dosen NIK yang ngajar. Kalau dia tidak bisa mengenali jati dirinya, maka ketika mengenali jati dirinya, orang Sunda mengenalkan diri ketika bertemu dengan orang lain dengan jati diri: sampuran ingsun, sempurnakan diri Anda sendiri. Maka orang yang sempurna itu adalah orang yang rawan, jati yaitu migusti kadiri, nyaah kapada hirup. Itulah manusia rawaian jati.
266 - 366
Ketika hidup, maka yang hidup itu bukan hanya dipandang dari sisi manusia dan kemanusiaan, tapi seluruh alam raya ini adalah kehidupan. Maka seluruh kehidupan alam raya harus diorkestrasi dengan apa? Dengan teologi. Teologinya apa? Teologi kemanusiaan, teologi yang mengajarkan tentang kemanunggalan.
Teologi kemanunggalan saya jabarkan dalam visi pembangunan Jawa Barat, yaitu pembangunan Jawa Barat berkarakter. Yang disebut berkarakter adalah manusia harus sesuai dengan karakteristik lingkungannya: sesuai dengan tanahnya, airnya, udaranya, dan mataharinya.
Dalam simbol-simbolnya: tanah dilambangkan dengan warna hitam, air dengan warna putih, udara dengan warna kuning, api atau matahari dengan warna merah. Keempatnya disebut papat kalimat pancer atau papat kalimat tunggal. Inilah teologi yang memanunggalkan manusia dengan seluruh alamnya.
Karena memanunggalkan, maka pembangunan adalah proses menuju kepanunggalan. Pembangunan menuju kemanunggalan tidak boleh memisahkan. Jika memisahkan, maka pembangunan bertentangan dengan prinsip ketuhanan dan teologi. Karena itu pembangunan harus menyatukan. Dari situlah lahir yang disebut sareuduk, saigel, sabot, sapihanean. Kacai jadi seleuwih, ka darat jadi salogak.
Prinsip pembangunan ini diwujudkan dalam nilai silih wangi, silih asa, silih asi, silih asu. Seluruh sistem nilai ini hidup dalam kehidupan masing-masing bangsa: orang Jawa dengan teologi Jawanya, orang Sunda dengan teologi Sundanya, orang Kalimantan dengan teologi Kalimantannya, orang Bali dengan teologi Balinya.
Kenapa? Karena nilai-nilai Tuhan sebagai transendensi dan imanensi hanya bisa dirasakan melalui pendekatan alam atau pendekatan ekosistem. Maka memahami gunung berarti memahami ketuhanan dalam teologinya orang Sunda. Mengapa orang Sunda mendapat keberkahan rahman dan rahim Allah melalui gunung? Karena konsepsinya ada di situ.
Mindung ka waktu, mi bapa ke zaman, maka gunung itu menjadi simbol ketuhanan. Dibuatlah pegunungan: makin ke atas makin tunggal, makin ke bawah makin banyak komponennya. Orang Sunda menyebut gunung sebagai alam parakhian, yaitu alam kesucian yang tidak boleh dinodai oleh aspek kebutuhan.
Maka raja Sunda tidak memiliki ukuran dalam arti biasa, karena menjelang akhir hayatnya dia pergi ke gunung untuk tidak kembali lagi. Untuk apa? Agar gunung dihormati oleh penerusnya. Dengan begitu, kehidupan ekosistem dan pembangunan akan terus berlangsung.
Apa yang membuat pembangunan menjadi mahal? Apa yang membuat pembangunan melahirkan watak kegelisahan? Karena manusia dipisahkan dari semesta. Manusia dipisahkan dari semestanya akibat apa? Akibat lama dibuat berpikir dengan kebencian terhadap nilai ajaran.
Orang Sunda disuruh benci pada Sunda wiwitan. Orang Jawa disuruh benci pada kejawen. Orang Kalimantan disuruh benci pada ajaran leluhurnya. Mengapa? Karena ketika kita membenci ajaran itu, sesungguhnya kita sudah menjauhkan diri dari alam yang diciptakan Allah untuk kita.
Padahal leluhur kita memahami alamnya, membangun dengan meletakkan kerangka dasar perkampungannya, dengan wiwitan itu mereka memaknai hidup.
Inilah problemnya. Gunung Jati mengajarkan bahwa ketika Islam datang, dia tetap Gunung Jati. Ketika Islam datang, dia tetap Sunan Kudus. Ketika Islam datang, dia tetap Kalijaga.
367 - 485
Karena tidak ada yang berubah. Yang berubah untuk apa? Yang berubah hanya pola, yaitu memasukkan syariat. Syariat tidak menghapus nilai-nilai imanensi dan transendensi yang ada dalam lingkungan itu.
Sehingga pembangunan adalah rangkaian yang tidak terpisah antara bihari, kiwari, dan poe isuk. Pembangunan adalah rangkaian yang tidak memisahkan antara horizontal dan vertikal. Tidak ada pemisahan itu. Kita diajarkan untuk anti-sekularisme, tetapi dalam kenyataannya setiap waktu kita melakukan sekularisme. Apa itu? Memisahkan urusan masjid dengan urusan kantor, memisahkan urusan masjid dengan perguruan tinggi, memisahkan urusan masjid dengan lingkungan.
Atau sebaliknya: kita membuat penambangan yang menghasilkan kerusakan lingkungan, kesengsaraan rakyat, matinya rasa, dan matinya kemanusiaan. Kemudian uang itu kita gunakan untuk umrah, untuk membangun masjid-masjid yang megah. Menurut saya, Islam tidak mengajarkan itu.
Karena kerangkanya seperti itu, maka dalam pandangan saya, perspektif Jawa Barat ke depan apa? Kata saya: Jawa Barat kudu balik ka dirina, mulang ka asalna. Kenapa? Karena kita tahu kita gagal dalam mengelola pembangunan ini. Buktinya apa? Eksploitasi sumber daya alam secara terus-menerus, kerusakan lingkungan yang tidak pernah berhenti, kemiskinan yang masih tinggi, jurang pemisah antara kaya dan miskin sangat jauh, dan generasi mulai kehilangan jati dirinya.
Generasi kita terpisah dari lingkungannya. Apa cirinya manusia terpisah dari lingkungannya? Anak dekat dengan bapaknya dan ibunya dalam setiap waktu, tetapi masing-masing asyik dengan HP yang digunakannya. Seolah satu sama lain tidak saling mengenalnya.
Dosen di ruangan digital mengajarkan tentang masa depan, tentang AI, tetapi tidak ada hubungan batin dengan muridnya. Karena tidak ada hubungan batin, dosen hanya mengantarkan pikiran akademik, tetapi tidak mengantarkan rasa dan cinta. Kalau tidak mengantarkan rasa dan cinta, maka ucapan dosen bukanlah doa. Hanya ucapan kata-kata tanpa makna, yang akhirnya berujung pada peningkatan pendapatan bulanan semata.
Sistem pendidikan kita dibuat seperti itu setiap waktu. Saya pernah bicara dengan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat. Saya bilang, “Bisa tidak anak-anak itu pulang jam 14.30 atau jam 13.30?” Tetapi jawabannya tidak bisa. Kenapa? Karena guru nanti kehilangan jamnya. Kalau guru kehilangan jamnya, dia akan kehilangan nilai sertifikasinya. Maka setiap orang hanya mengejar jamnya, bukan mengejar esensi dari jam itu.
Apa makna sebuah pertemuan satu jam kalau isinya pertengkaran, dibanding pertemuan sepuluh menit yang isinya penuh percumbuan kasih? Mana yang lebih meninggalkan kesan?
Pendidikan kita disebut naratif administratif. Karena naratif administratif, yang lahir adalah sarjana-sarjana naratif dan sarjana-sarjana administratif. Sarjana naratif membuat skripsi dengan ukuran tebal 400 halaman, spasi sekian, dan aturan teknis lainnya. Maka yang dilakukan mahasiswa apa? Banyak memasukkan kata-kata. Semakin banyak kata-kata, skripsinya semakin kehilangan makna.
Saya berharap suatu saat ada sarjana dari UIN Sunan Gunung Jati membuat skripsi cukup satu kalimat: Cingcari, cingpage, kancing set, pagensi, dan mengimani itu bagi kehidupan.
Atau nanti lahir seorang sarjana tanpa karya tulis, tetapi dengan karya nyata: sarjana kedokteran menunjukkan karyanya, sarjana pertanian menunjukkan karyanya, ahli tafsir hadis menunjukkan karyanya. Semua memperlihatkan karya. Karena ujung dari sarjana adalah foto dengan latar belakang buku-buku, yang dalam kenyataannya tanpa makna. Itulah lambang sarjana Indonesia.
Karena itu yang menjadi esensinya, tadi ketika saya naik ke panggung ini, saya diantarkan dengan sebuah lagu. Lagu itu menjadi spirit saya dalam setiap waktu. Untuk itu saya memberikan apresiasi 25 juta untuk tim paduan suara.
Comments
Post a Comment